Rabu, 23 Januari 2013

seorang ibu

Assalamualaikum semua…post ni merupakan satu cerita yang agak sedih..ya..kasih ibu amat besar..lebih besar daripada segalanya, lebih berharga daripada nilai gaji yang kita perolehi..tetapi mengapa kita perlu jadi sedemikian rupa…bacalah dengan teliti cerita ini…hergailah mereka selagi kita masih punyai…kini c.z hanya mempunyai ibu sahaja…dan cz memang SAYANGKAN DIA…..
Pada suatu hari, seorang pemuda yang bernama Faizal terlibat dalam kemalangan. Dia dilanggar oleh sebuah teksi di sebatang jalan raya.
Akibat daripada kemalangan itu dia cedera parah. Kepalanya luka, tangannya patah dan perutnya terburai. Setelah dibawa ke hospital, doktor mendapati keadaannya terlalu teruk dan menjangkakan dia tidak ada harapan lagi untuk hidup. Ibunya, Jamilah segera dihubungi dan diberitahu tentang kemalangan yang menimpa anaknya.
Hampir pengsan Jamilah mendengar berita tentang anaknya itu. Dia segera bergegas ke hospital tempat anaknya dimasukkan.Berlinang air mata ibu melihat keadaan anaknya. Walaupun telah diberitahu bahawa anaknya sudah tiada harapan lagi untuk diselamatkan, Jamilah tetap tidak henti-henti berdoa dan bermohon kepada Allah agar anaknya itu selamat.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, keadaan Faizal tidak banyak berubah. Saban hari Jamilah akan datang menjenguk anaknya itu tanpa jemu. Saban malam pula Jamilah bangun untuk menunaikan solat malam bertahajjud kepada Allah memohon keselamatan anaknya. Dalam keheningan malam, sambil berlinangan air mata, Jamilah merintih meminta agar anaknya disembuhkan oleh Allah.
Ini adalah antara doa Jamilah untuk anaknya itu ;
”Ya Allah ya Tuhanku, kasihanilah aku dan kasihanilah anak aku. Susah payah aku membesarkannya, dengan susu aku yang Engkau kurniakan kepadaku, aku suapkan ke dalam mulutnya. Ya Allah, aku pasrah dengan apa jua keputusan-Mu! Aku redho dengan qada’ dan qadar Mu yaa Allah.”
”Yaa Allah, dengan air mataku ini, aku bermohon kepadaMu, Engkau sembuhkanlah anakku dan janganlah Engkau cabut nyawanya. Aku sangat sayang kepadanya. Aku sangat rindu kepadanya. Susah rasanya bagiku untuk hidup tanpa anakku ini. Terngiang-ngiang suaranya kedengaran di telingaku memanggil-manggil aku ibunya.”
“Ya Allah, tidak ada Tuhan melainkan hanya Engkau saja. Tunjukkanlah kuasa Mu ya Allah. Aku reda kalau anggota badanku dapat didermakan kepadanya agar dengannya dia dapat hidup sempurna kembali.”
“Ya Allah, aku redho nyawaku Engkau ambil sebagai ganti asalkan Engkau hidupkan anak kesayanganku. Engkaulah yang Maha segala hal, berkat kebesaran Mu ya Allah, terimalah doaku ini….aamiin”.
Keyakinan Jamilah terhadap kuasa Ilahi sangat kuat walaupun tubuh badan anaknya hancur cedera dan dikatakan sudah tiada ada harapan lagi untuk hidup. Namun, Allah benar-benar mahu menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya.
Setelah 5 bulan terlantar, akhirnya Faizal menampakkan tanda-tanda kesembuhan dan akhirnya dia sembuh sepenuhnya. Berkat doa seorang ibu yang ikhlas.
Faizal dapat meneruskan hidupnya hingga berumahtangga dan beranak-pinak. Ibunya, Jamilah semakin hari semakin tua dan uzur.
Suatu hari, Jamilah yang berusia hampir 75 tahun jatuh sakit dan dimasukkan ke hospital. Pada mulanya, Faizal masih melawat dan menjaga ibunya di hospital. Tetapi semakin hari semakin jarang dia datang menjenguk ibunya hinggalah pada suatu hari pihak hospital menghubunginya untuk memberitahu keadaan ibunya yang semakin teruk.
Faizal segera bergegas ke hospital. Di situ, Faizal dapati keadaan ibunya semakin lemah. Nafas ibunya turun naik. Doktor memberitahu bahawa ibunya sudah tidak ada masa yang lama untuk hidup. Ibunya akan menghembuskan nafasnya yang terakhir pada bila-bila masa saja.
Melihat keadaan ibunya yang sedemikian dan kononnya beranggapan ibunya sedang terseksa, lantas Faizal terus menadah tangan dan berdoa seperti ini;
“ Yaa Allah, seandainya mati lebih baik untuk ibu, maka Engkau matikanlah ibuku! Aku tidak sanggup melihat penderitaannya. Yaa Allah, aku akan redho dengan pemergiannya…Aamin.”
Begitulah bezanya doa ibu terhadap anak dan doa anak terhadap orang tuanya. Apabila anak sakit, walau seteruk mana sekalipun, walau badan hancur sekalipun, walau anak tinggal nyawa-nyawa ikan sekalipun, namun ibu bapa akan tetap mendoakan semoga anaknya diselamatkan dan dipanjangkan umur.
Tetapi anak-anak yang dikatakan ‘baik’ pada hari ini akan mendoakan agar ibu atau bapanya yang sakit agar segera diambil oleh ALLAH, padahal ibu bapa itu baru saja sakit. Mereka meminta pada Allah agar segera mematikan ibu atau bapanya kerana kononnya sudah tidak tahan melihat ‘penderitaan’ ibu bapanya.

catatan ibu

22 Januari 2012
Hari ini anak pertamaku lahir. Baru kusadari ternyata persalinan itu sangatlah menyakitkan. Seakan rohku di cabut paksa oleh malaikat. Jadi seperti inilah penderitaan ibuku dulu.
Aku hampir saja menyerah dan pasrah. Namun suamiku selalu berada disisiku dan menyemangatiku. Ya, aku harus kuat. Demi kelahiran anak pertamaku
23 Januari 2012
Akhirnya anakku lahir. Bayi perempuan itu menangis keras menggetarkan seisi dunia. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Aku mengelus kepalanya yang masih lunak. Suamiku mengumandangkan azan dan iqamah di telinganya, harapan kami agar ia selalu mengingat ibadah sholat dan menjadi anak yang salihah. Ia terlihat sangat senang, ketika pertama kali aku menyusuinya.
12 Maret 2013
Anakku sudah semakin besar. Kini ia bisa berjalan dan mengucapkan kata – kata. Aku ingat kata pertama yang ia berhasil ucapkan, “mama” katanya. Aku senang sekali saat itu, dan berdoa suatu kelak anakku bakal jadi orang pintar
18 Mei 2016
Kini anakku telah masuk Taman Kanak – kanak. Kata gurunya ia merupakan anak yang rajin di sekolah. Wah, aku terharu sekali
20 Juni 2016
Hari ini aku berduka. Suamiku meninggal dalam keadaan jihad di medan perang. Walau bersyukur karena ia mati sahid, namun aku sedih ketika kini hanya tinggal aku dan putriku tercinta. Ya Allah, terimalah amal dan ibadah suamiku, dan bantu aku menghadapi cobaan ini
23 Desember 2016
Rumah kami kebakaran. Saat itu aku dan putriku sedang tertidur pulas. Tiba – tiba aku terbangun dan menyadari kalau api sudah mengelilingi kami. Aku langsung menggendong putriku. Memeluknya erat dan menjaganya dari api yang ingin melahapnya. Aku melompati jendela lantai dua dan jatuh dengan badanku duluan. Aku senang putriku baik – baik saja, walaupun ia menangis. Mungkin karena melihat ibunya yang menghitam terkena luka bakar dan mengalami patah tulang kaki.
4 Januari 2022
Kini anakku telah masuk SMP. Wah, ia semakin besar. Tetapi suatu hari ia menangis, karena teman – teman mengejeknya “Si anak berIbu cacat”. Aku sedih karenaku putriku terpaksa harus menanggung beban juga. Tetapi ternyata putriku sangatlah hebat. Ia bilang padaku “Gak apa – apa Putri punya Ibu cacat. Karena sebenarnya Ibu Putri adalah Bidadari dari surga yang hanya memiliki sedikit kelebihan”. Aku terharu mendengarnya
6 Maret 2026
Tak terasa ia kini telah SMA. Dan menjadi lebih dewasa. Bahkan ia telah mengenal yang namanya cinta. Hm, hari ini seorang teman prianya datang ke rumah. Wah berani bener tu anak. Tapi aku senang dengan anakku. Ia tidak malu memperkenalkan Ibunya yang kekurangan ini pada teman prianya itu. Walaupun teman prianya seperti takut melihat keadaanku. Semoga ini tidak merusak hubungan mereka.
7 Juni 2027
Akhirnya anakku lulus SMA. Aku sangat bangga sekali ia menjadi salah satu murid dengan nilai terbaik di sekolahnya. Hari ini ia bilang niatnya untuk mencoba tes masuk perguruan tinggi. Ia ingin jadi dokter dan kalau nanti ia telah menjadi dokter ia ingin mengobati penyakitku. Anakku, semoga impianmu itu terwujud ya nak. Aamiin
8 Juli 2027
Alhamdulillah Ya Allah, anakku keterima di salah satu Universitas Negeri dan ia juga mendapatkan beasiswa. Semoga ini menjadi langkah awalnya menjadi seorang yang sukses. Suamiku, semoga kau juga bangga terhadap putri kita ya. Ia sekarang semakin dewasa.
12 Juli 2027
Hari ini anakku berangkat ke luar daerah demi melanjutkan cita – citanya. Aku sedih sekali tak bisa mengantarnya karena kekuranganku ini. Ya, aku hanya bisa mengucapkan doa untukmu Nak. Semoga engkau baik – baik saja di sana dan jaga dirimu.
20 Agustus 2030
Sudah 3 tahun sejak ia meninggalkan rumah. Entah bagaimana kabarmu nak. Kenapa engkau tak pernah mengirimi Ibu surat dan kenapa engkau tak membalas surat dari Ibu. Apa mungkin surat itu tidak sampai padamu, atau engkau masih sibuk dengan kuliahmu ? Gak apa – apa, aku yakin engkau pasti akan kembali. Putri kesayanganku.
22 Oktober 2034
Ku dengan dari wak Sarmin tetangga rumah yang baru pulang dari daerah tempat engkau kuliah. Ia bilang ia melihatmu telah jadi seorang dokter di sana. Aku bangga sekali akhirnya impianmu terwujud nak. Kenapa engkau tak pulang, Ibu kangen sekali samamu Putri
4 Desember 2037
Engkau masih tak kunjung pulang Nak. Kenapa engkau tak juga membalas surat dari Ibu. Sekarang Ibu sedang sakit, Ibu ingin di hari tua Ibu ada dirimu yang menemani. Bukankah engkau berjanji akan mengobati penyakit Ibu Nak. Nak, Ibu kangen sekali sama kamu. Ibu kangen bercanda ria denganmu. Ibu kangen memarahi kamu saat kamu melakukan kesalahan. Ibu ingin memelukmu sekarang, mencium keningmu. Ibu kangen dengan Putri Ibu yang dulu yang selalu marah kalau ada yang mengejek keadaan Ibu. Dimana sekarang kamu Putri ? Ibu membutuhkanmu
23 Januari 2038
Hari ini, di usia setua ini. Ibu masih ingat hari ini hari ulang tahunmu Putri. Tak terasa sudah 20 tahun lebih dirimu sekarang. Mungkin engkau telah memiliki keluarga. Ibu ingin sekali menggendong anakmu. Ibu ingat saat mengandung kamu Ibu selalu bahagia. setiap hari Ibu mengajak kamu berbicara, walau Ibu tahu kamu hanya bisa merespon dengan menedang perut Ibu. Ibu ingat mendiang Ayahmu selalu membawamu jalan – jalan ke pantai dengan sepeda tuanya lalu membelikan kamu balon setiap kamu merengek pada Ayah.
Masihkah kau ingat ulang tahun Ibu Nak. Mungkin kau sudah lupa berapa usia Ibu saat ini. Gak apa – apa Nak. Kenangan Ibu saat engkau membuatkan bunga kertas sudah menjadi kenangan perayaan setiap Ibu ulang tahun. Saat itu kamu masih kelas 3 SD. Kamu berlari masuk ke dalam rumah dengan pakaian kotor dan mengejutkan Ibu yang sedang mencuci. Kamu bilang, Selamat Ulang Tahun Ibuku tersayang. Ni Putri bikinin bunga kertas. Kata Ibu guru ini bisa jadi hadiah buat ulang tahun. Ibu sangat senang saat itu nak. Dan kini di setiap tahun sejak engkau pergi, Ibu selalu menunggu datangnya kabar darimu. Ibu selalu menunggu kejutan darimu di setiap ulang tahun Ibu. Tapi engkau tak kunjung datang. Mungkin umur Ibu tak lama lagi Nak. Ibu bermimpi Ayahmu datang mengajak Ibu tinggal bersamanya di Surga. Putri, Ibu ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya Nak. Cukup itu saja keinginan Ibu tak lebih.
Air mata itu menetes membasahi pipi wanita itu ketika ia membaca buku catatan tua peninggalan Ibunya. Saat itu adalah saat pemakaman Ibunya. Ia hanya bisa menangis meratapi kuburan Ibunya.
“Ibu, maafin Putri. Putri selama ini tidak pernah kasih kabar ke Ibu. Ibu, maafin Putri yang tak pernah lagi menanyakan kabar Ibu karena kesibukan Putri. Ibu maafin Putri yang telah ingkar janji buat memngobati Ibu. Maafin Putri buk, Putri menyesal. Ibu, Ibu, maafin Putri Bu”,teriak wanita itu dan menangis keras memeluk kuburan Ibunya.
“Ibumu selalu menunggu Put. Saat dapat kabar dariku tentang dirimu yang telah jadi dokter, ia senang sekali. Dengan bangganya ia keluar dari rumah dan menemui tetangga – tetangga. Setiap rumah ia berteriak “Anakku telah jadi dokter dan ia bakal nyembuhin penyakitku”. Ia menyeret kan badannya tanpa peduli kalau badannya telah kotor dengan tanah. Ia begitu bangga padamu Put, hingga ia ingin seluruh dunia tahu Anak kesayangannya telah menjadi seorang dokter”, kata wak Sarmin pada wanita itu
“Ibu…Hhhhh… Maafin Putri”